Para Priyayi: Sebuah Novel

Berasal dari keluarga buruh tani, Soedarsono, oleh orang-tua dan sanak saudaranya diharapkan dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten, ia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa. Dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya, melewati zaman Belanda dan zaman Jepang, tumbuh sebagai guru, opsir Peta, dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil.
Benarkah? Lalu apakah sesungguhnya “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya? Cucu-cucu Soedarsono sendiri kemudian hidup sebagai anak zaman mereka: menjadi anak kelas menengah birokrat yang manja, idealis kiri yang terlibat gestapu, dan entah apa lagi. Justru Lantip –anak jadah dari keponakan jauh Soedarsono– yang tampil sebagai hero. Dialah yang, dengan caranya sendiri, menunjukkan makna “priyayi” dan “kepriyayian” itu.
(Diambil dari sampul belakang novel “Para Priyayi: Sebuah Novel”, karya Umar Kayam)

Saat mudik Lebaran yang lalu, novel ini tidak menarik minat saya untuk membacanya dan saya lebih suka membaca novel yang lain, koleksi adik ipar. Warna sampulnya yang dominan coklat dan ‘ketakutan’ saya pada nama besar Umar Kayam membuat novel ini saya urutkan dalam daftar paling belakang dari daftar prioritas novel yang akan saya baca.

Serius, saya takut tidak mengerti atau tidak dapat mencerna tulisan karya sastrawan/budayawan sekelas Umar Kayam ini. Saya bukanlah penikmat sastra dan sejujurnya tidak mengerti tentang sastra. Saya membaca novel ini hanya sebagai pengisi waktu luang dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengapresiasinya.

Pada kesempatan berkunjung lagi ke Bandung beberapa waktu yang lalu, novel ini akhirnya ‘terpaksa’ saya baca. Pertama saya baca sinopsisnya di halaman belakang, emh gak menarik! Pikir saya saat itu. Novel ini saya simpan kembali, baru kemudian di malam hari saat saya merasa suntuk karena tidak ada kegiatan maka saya iseng membaca bab pertama novel tersebut yang berjudul “Wanagalih”, ternyata menarik juga.

Umar Kayam menggunakan gaya bertutur orang pertama yang unik. Ini adalah buku pertama yang saya baca dimana para tokohnya menjadi orang pertama secara bergantian. Akhirnya, saya lahap keseluruhan novel ini dalam waktu kurang lebih satu minggu. Ternyata tulisannya mudah dicerna dan tidak membuat kening berkerut.

Novel setebal 308 halaman ini diterbitkan oleh Graffiti dan ditulis saat beliau berada di Yale University, New Haven, Connecticut dan dibiayai secara patungan oleh Ford Foundation dan Henry Luce Foundation.

Novel berjudul Jalan Menikung: Priyayi 2 adalah kelanjutan dari novel ini dan belum saya baca.

Umar Kayam memperoleh gelar doktor dari Cornell University, Ithaca, pada 1965. Dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, pada 30 April 1932, pernah menjadi Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, selain menjadi anggota Akademi Jakarta dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beberapa di antara karya tulisnya yang lain, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (kumpulan cerpen, 1972), Sri Sumarah dan Bawuk (dua novelet, 1975), dan Mangan Ora Mangan Kumpul (kumpulan kolom, 1990).

Umar Kayam, sosiolog, novelis, cerpenis, budayawan, meninggal dunia di MMC Jakarta, hari Sabtu (16/3) kemarin, pada tanggal 16 Maret 2002 pukul 07.45. Tutup usia pada usia 70 tahun.

7 Comments

Leave a Reply